TRANSLASI LAPORAN KEUANGAN ENTITAS ASING
“AKUNTANSI
MULTINASIONAL:
TRANSLASI
LAPORAN KEUANGAN ENTITAS ASING”
Dosen Pengampu :
Dania Puspitasari SST.,
MSA
Disusun Oleh :
ATIKA DWI LESTARI (1510421002)
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH JEMBER
2018
1.1
PERBEDAAN
DALAM PRINSIP AKUNTANSI
Perbedaan dalam prinsip akuntansi
karena antara lain :
1. Kondisi
Perekonomian suatu negara
2. Masalah
Hukum
3. Pendidikan
dan Sistem Politik
4. Perkembangan
Teknologi
5. Budaya
dan Trandisi
6. Faktor
Ekonomi lainnya
Standar pelaporan keuangan yang utama saat ini yang
sedang dalam penyusunan oleh International
Accounting Standards Board (IASB). IASB adalah sebuah badan ang memperoleh
mandat untuk menyusun seperangkat standar laporan keuangan internasional dan
mendorong seluruh pihak untuk mengadopsi standar yang berlaku secara
internasional tersebut. Ada 14 anggota IASB, 12 diantaranya anggota penuh
bekerja secara full time untuk IASB. Susunan keanggotaanna dengan komposisi
sebagai berikut :
ü 5
anggota berdasar latar belakang auditor
ü 3
anggota berdasar latar belakang penyusun laporan keuangan ( dari manajemen)
ü 3anggota
berlatar belakang pengguna laporan keuangan
ü 1
anggota berlatar belakang akademisi
ü 2
anggota lainnya dapat berlatar belakang dari bidang lainnya.
IASB mengumumkan
sebuah standar pelaporan yang disebut Standar Pelaporan Keuangan Internasional
(International Financial Reporting
Standards- IFRS). Sebelum terbentknya IASB adalah International Accounting Standards Committe telah menerbitkan
International Accounting Standards (IASs).
IASs diterbitkan dari tahun 1973 hingga 2001. IASB mengadop IAS secara
keseluruhan dan sekaligus mengembangkannya yang disebut standar baru IFRS.IFRS
digunakan dibanyak negara di dunia termasuk , sebelum tahun 2005 digunakan oleh
350 perusahaan publik , sedangkan tahun 2005 sebanyak 7.000 perusahaan. Banyak
pihak yang berpendapat bahwa jika hanya ada satu set standar akuntansi yang
berlaku secara internasional akan meningkatkan diri investor di pasar dan
meningatkan efisiensi pasar karena memudahkan investor untuk membandingkan
berbagai pilihan investasi di berbagai negara.
Bentuk pelaporan
keuangan yang juga berpengaruh adalah GAAP Amerika Serikat. JIka dihitung
berdasarkan kapitalisasi pasar , GAAP AS telah digunakan lebih dari separuh
perusahaan di dunia ini.
Untuk
meminimalisasi perbedaan diantara perbedaan standar di dunia ini, khususnya
antara GAAP dan IFRS, maka pihak FASB terus bekerja sama dengan IASB untuk
meningkatkan standar pelaporan internasional dan "mengonversikan" ke
dua set standar tersebut . Pada bulan September 2002 , FASB menerbitkan "
The Norwalk Agreement"dimana baik FASB maupun IASB sepakat bekerjasama
untuk meningkatkan pelaporan keuangan dengan meminimalisasi perbedaan diantara
mereka.Usaha konvergensi ini berfokus pada evaluasi standar yang telah ada dan
mengawasi implementasi standar tersebut saat ini serta standar baru yang ke dua
kelompok itu kembangkan.
1.2
PENENTUAN
MATA UANG ASING
Ada dua isu
utama yang ditujukan pada laporan keuangan yang ditranslasikan dari mata uang
asing pada rupiah Indonesia, yaitu :
1. Nilai
tukar manakah yang harus digunakan untuk mentranslasi nilai mata uang asing
menjadi mata uang domistik ?
2. Bagaimanakah
seharusnya perlakuan atas keuntungan atau kerugian tersebut ? Haruskah hal itu
dimasukkan dalam laba rugi ?
Ada tiga
kemungkinan nilai tukar yang digunakan dalam mengkonversi nilai mata uang asing
menjadi rupiah :
1. Nilai
Tukar Sekarang merupakan nilai tukar pada akhir hari tanggal neraca
2. Nilai
Tukar Historis merupakan nilai tukar yang ada pada saat transaksi awal terjadi
seperti nilai tukar pada saat aset diterima atau kewajiban diakui
3. Nilai
Tukar Rata-rata merupakan nilai tukar rata-rata selama suatu periode
PSAK No.11
tentang Translasi Mata uang asing.
(PSAK11) memberikan panduan khusus untuk mentranslasikan laporan keuangan dari
mata uang asing menjadi mata uang rupiah. Tujuan dari PSAK1 adalah menyajikan
hasil yang secara langsung memperlihatkan pengaruh perubahan ekonomi dari
pergerakan nilai tukar. PSAK11 juga menjelaskan tentang pencapaian keuangan dan hubungannya dalam
laporan keuangan dengan mata uang asing melalui translasi.
Sebagai contoh, jika margin bruto
pada penjualan positif ketika diukur dalam mata uang asing maka harus tetap
positif ketika penjualan dan harga barang yang dijual ditranslasikan ke dalam
rupiah. PSAK11 mengadopsi mata uang
fungsional (functional currency) yang didefenisikan sebagai "mata uang
dari lingkungan ekonomi primer di mana
entitas tersebut beroperasi.Umumnya, mata uang tersebut adalah mata uang dari
lingkungan dimana entitas tersebut terutama menghasilkan dan menerima
kas". Mata uang fungsional digunakan untuk membedakan antara dua jenis
kegiatan operasional luar negeri:
1. Kegiatan
yang dikelola sendiri dan terintegrasi dengan lingkungan lokal dimana entitas
asing itu beroperasi, dan
2. Kegiatan
yang terpisah dari lingkungan lokal dan terintegrasi dengan induknya
Perusahaan
Indonesia dapat saja memiliki afiliasi asing di beberapa negara berbeda. Setiap
afiliasi tersebut harus dianalisis untuk menentukan mata uang fungsional
masing-masing.
Figur
12-1
Indikator-indikator
mata uang fungsional :
|
Indikator
|
Mata
uang sebagai mata uang fungsional jika memenuhi indikator dibawah ini
|
|
Arus Kas
|
Arus kas yang berhubungan dengan kegiatan utama
perusahaan didominasi oleh mata uang tersebut
|
|
Harga Jual
|
Harga juaal dalam jangka pendek sangat terpengaruh
dengan perubahan nilai mata uang tersebut atau produksi perusahaan sebagaian
besar di ekspor
|
|
Beban
|
Beban dipengaruhi oleh perubahan nilai mata uang
|
Akan
tetapi, beberapa entitas asing menggunakan mata uang fungsional yang berbeda
dengan mata uang lokalnya. Sebagai contoh, sebuah anak perusahaan dari Induk
perusahaan di Indonesia yang berlokasi di Venezuela dapat melakukan hampir
semua bisnisnya di Brazil atau sebuah cabang atau anak perusahaan dari Induk
PerusahaanIndonesia yang beroperasi di Inggeris dapat menggunakan dolar sebagai
mata uang utamanya walaupun ia menggunakan poundsterling untuk pencatatan
akuntansinya. Faktor-faktor yang berikut mengindikasikan apakah mata uang
rupiah sebagai mata uang fungsional dari anak perusahaan Inggris sebagian besar
transaksi kas dalam rupiah, pasar penjualan utama di Indonesia, komponen
produksi umumnya diperoleh dari Indonesia dan Induk perusahaan di Indonesia
yang paling bertanggung jawab dalam pendanaan anak perusahaan di Inggris
tersebut.
DSAK
telah mengadopsi pendekatan mata uang fungsional setelah mempertimbangkan
tujuan dari proses translasi tersebut :
a. Memberikan
informasi yang secara umum sesuai dengan pengaruh ekonomi yang diharapkan dari
perubahan nilai tukar terhadap arus kas dan ekuitas perusahaan.
b. Mencerminkan
dalam laporan keuangan konsolidasi hasil keuangan dan hubungan antara
masing-masing entitas konsolidasi dalam mata uang fungsional yang sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku secara umum di Indonesia.
Pendekatan mata uang fungsional mengharuskan entitas
asing untuk mentranslasikan seluruh transaksinya ke dalam mata uang fungsional.JIka
suatu entitas mempunyai transaksi yang dinyatakan dalam mata uang selain mata
uang fungsional maka transaksi asing harus disesuaikan menjadi nilai setara
mata uang fungsional sebelum perusahaan menyusun laporan keuangan konsolidasi.
Penentuan
Mata Uang Fungsional Di Lingkungan
Dengan Tingkat Inflasi Tinggi
Inflasi yang sangat
tinggi didefenisikan sebagai inflasi melebihi 100% selama periode tiga tahun,
contoh Argentina dan Peru. PSAK memutuskan bahwa volatilitas dalam mata uang
asing dengan hiperinflasi mendistorsi laporan keuangan jika mata uang lokal
dipergunakan sebagai mata uang fungsional entitas asing. Untuk kondisi seperti
ini maka mata uang pelaporan dari Induk Indonesia- rupiah- harus digunakan sebagai mata uang fungsional entitas
asing. Pengecualian ini mencegah nilai aset dan perubahan laporan laba rugi
yang tidak realistis jika keadaan hiperinflasi tersebut diabaikan dan prosedur
translasi yang normal digunakan. Contoh: Anak perusahaan di lar negeri
membangun gedung dengan biaya 1.000.000 peso (kurs saat itu Rp 500/satu peso,
karena adanya hiperinflasi di negara anak perusahaan tersebut maka nilai tukar
menjadi Rp 0,05 per 1 peso. Nilai gedung pada saat dibangun dan setelah
heperinflasi sebagai berikut :
|
Jumlah Tanggal Pembangunan Setelah Hiperinflasi
(Peso) Nilai Tukar Jml Hasil Translasi Nilai
Tukar Jml Hasil Translasi
|
|
1.000.000 Rp 500 Rp 500.000.000 Rp 0,05 Rp 50.000
|
Nilai translasi setelah hiperinflasi
tidak mencerminkan nilai pasar atau biayaa perolehan historis dari gedung
tersebut. Oleh karena itu PSAK mengharuskan penggunaan rupiah sebagai mata uang
fungsional dalam kasus hiperinflasi
untuk memberikan stabilitas dalam laporan keuangan.
Setelah
penentuan mata uang asing dari afiliasi asing, mata uang tersebut harus
digunakan secara konsisten.Seandainya ada perubahan dalam konsisi perekonomian
mengharuskan perubahan dalam penentuan mata uang fungsional afiliasi asing maka
perubahan akuntansi tersebut harus
diperlakukan sebagai perubahan dalam estimasi hanya perlakuan saat itu dan
prospektif saja, tidak diperlakukan penyajian kembali laporan dari
periode-periode sebelumnya.
1.3
TRANSLASI
VERSUS PENGUKURAN KEMBALI LAPORAN KEUANGAN ASING
Untuk menyajikan
kembali laporan keuangan entitas asing ke dalam rupiah, terdapat dua metode
yang berbeda :
1. Translasi
laporan keuangan entitas asing ke rupiah, dan
2. Pengukuran
kembali laporaan keuangan entitas asing ke mata uang fungsional entitas
tersebut , selanjutnya ditranslasi jika bukan dalam rupiah.
Translasi
adalah metode yang umum digunakan dan diterapkan jika mata uang lokal adalah
mata uang fungsional entitas asing ,contoh, anak perusahaan Indonesia di
Prancis menggunakan uero untuk catatan dan mata uang fungsionalnya. Laporan
keuangan anak perusahaan harus ditranslasi dari uero ke rupiah dan selieih
dimasukkan dalam komponen Laba Komprehensif. Metode translasi sering disebut
metode nilai tukar sekarang (current rate methods).
Pengukuran
kembali adalah pengukuran kembali laporan
keuangan entitas asing dari mata uang lokal yang digunakan entitas ke mata uang
fungsional entitas asing.Pengukuran kembali hanya diharuskan jika mata uang
fungsional berbeda dengan mata uang yang digunakan untuk pembukuan dan
pencatatan entitas asing. Contoh, Perusahaan Indonesia mempunyai cabang
penjualan di Singapura yang relatif independen dapat menggunakan mata uang
rupiah sebagai mata uang fungsionalnya tetapi memilih menggunakan dolar
Singapura sebagai mata uang pencatatan dan pelaporan. Jika menggunakan mata
uang rupiah, tentu langsung siap digabung dengan laporan induknya di Indonesia.
Metode yang
digunakan untuk pengukuran kembali laporan keuangan dari mata uang lokal kepada
mata uang fungsional disebut metode temporal
(temporal methods). Aset dan kewajiban moneter menunjukkan adanya hak untuk
menerima atau memenuhi pembayaran dalam sejumlah tertentu mata uang asing
dimasa yang akan datang. Berdasarkan metode temporal, nilai tukar sekarang
untuk mentranslasikan jumlah uang dalam mata uang fungsionalnya pos nonmoneter
seperti aset tetap, investasi jangka panjang dan persediaan , biasanya ditranslasi dengan menggunakan nilai tukar historis
yaitu nilai tukar dimana aset tersebut dibeli atau saat kewajibannya diakui. Pendapatan dan beban dalam laporan laba rugi
ditranslasikan dengan menggunakan nilai rata-rata sepenjang periode pelaporan.
Setiap selisih yang timbul akibat ketidakseimbangan pada metode temporal akan
disajikan sebagai bagian dari laporan laba rugi.
Penerapan metode
temporal mengonversikan sebuah mata uang asing menjadi mata uang fungsionalnya
namun jika mata uang rupiah menjadi mata ang fungsional tidak diperlukan lagi
penyesuaian.
Tabel berikut menyajikan metode
yang dapat digunakan oleh perusahaan Indonesia untuk menyatakan kembali laporan
keuangan afiliasi asing menjadi rupiah.
|
Mata Uang Pembukuan Dan
Pencatatan Afiliasi
Luar Negeri
|
Mata Uang Fungsional
|
Metode Pernyataan
Kembali
|
|
Mata uang lokal (yaitu mata
uang negara tempat afiliasi berlokasi)
|
Mata uang lokal
|
Translasi ke rupiah
menggunakan nilai tukar sekarang
|
|
Mata uang local
|
Rupiah Indonesia
(seperti yang diharuskan dalam perekonomian hiperinflasi)
|
Diukur kembali dari
mata uang lokal ke rupiah
|
|
Mata uang local
|
Mata uang negara
ketiga (bukan mata uang lokal atau rupiah)
|
Pertama, diukur
kembali mata uang lokal ke mata uang fungsional.kemudian ditranslasikan dari
mata uang fungsional ke rupiah
|
|
Rupiah Indonesia
|
Rupiah Indonesia
|
Tidak diperlukan
pernyataan kembali;sudah dalam rupiah
|
Afiliasi asing dapat
dikategorikan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah afiliasi yang
menghasilkan dan membelanjakan dalam unit mata ang lokal. mata uang lokal
merpakan mata uang fungsional dari entitas tersebut. Afiliasi asing inidapat mereinvestasi mata uang yang mereka
hasilkan atau mendistribusiakan dana ke kantor pusat ata ke induk perusahaan
dalam bentuk dividen. Perubahan nilai tkar tidak secara langsung memengaruhi
arus kas induk perusahaan Indonesia. Perubahan nilai tukar memengaruhi aset
neto (aset dikuurangi kewajiban ) afiliasi asing dan karena itu , memengaruhi
investasi neto induk perusahaan dientitas tersebut.
Kelompok ke dua
afiliasi asing terdiri dari entitas yang merupakan perpanjangan dari perusahaan
Indonesia. Afiliasi ini beroperasi di negara asing tetspi secara langsung
dipengaruhi oleh perubahan dalam nilai tukar, karena mereka tergantung pada
perekonomian Indonesia untuk pasar penjualan, komponen produksi atau pendanaan.
Untuk kelompok ini rupiah adalah mata uang fungsional. Diasumsiakan bahwa pangaruh
dari nilai tukar terhadap aset neto
afiliasi asing memengaruhi langsung arus kas induk perusahaan Indonesia,
sehingga selisih nilai tukar dilaporkan dalam laba untuk perusahaan Indonesia.
1.4
TRANSLASI LAPORAN KEUANGAN MATA UANG
FUNGSIONAL MENJADI MATA UANG PELAPORAN PERUSAHAAN INDONESIA
Translasi laporan keuangan entitas
asing dari mata uang fungsional ke mata uang pelaporan perusahaan Indonesia
adalah sebagai berikut :
|
Akun
laporan laba rugi :
Pendapatan
dan beban Umumnya, nilai tukar
rata-rata tertimbang untuk periode laporan
|
|
Akun
neraca:
Aset dan kewajiban Nilai tukar sekarang pada
tanggal neraca
Ekuitas pemegang saham Nilai tukar historis
|
Oleh karena untuk translasi masing-masing akun
entitas asing digunakan kurs yang berbeda-beda, maka umumnya debit dan kredit
dalam neraca percobaan setelah translasi tidak sama. Pos penyeimbang debit
neraca percobaan translasi dengan kreditnya disebut selisih translasi.
Penyajian
Laporan Keuangan dari Selisih Translasi
Selisih
translasi dari proses translasi adalah bagian dari pendapatan komprehnsif untuk
periode tersebut. Pendapatan komprehensif termasuk semua perubahan dalam
ekuitas selama tahun berjalan kecuali perubahan yang timbul dari investasi
pemilik dan bagian ke pemilik. Pendapatan komprehensif termasuk laba neto dan
"pendapatan komprehensif lainnya"
yang merupakan bagian dari perubahan aset neto perusahaan dari sumber selain
pemilik ( yaitu bukan investasi modal tambahan dan dividen) selama periode
berjalan. PSAK mengharuskan laporan pendapatan komprehensif sebagai bagian dari
laporan keuangan utama entitas. Pos utama yang menjadi bagian dari pendapatan komprehensif lainnya adalah
perubahan selisih translasi selama periode berjalan , keuntungan atau kerugian
belum direalisasi dari efek tersedia untuk dijual, penilaian kembali lindung
nilai arus kas, dan penyesuaian dalam kewajiban pensiun minimum.
Ilustrasi Translasi dan Konsolidasi Anak Perusahaan
Luar Negeri
1. Pada
tanggal 1 Januari 2011 , PT Induk perusahaan Indonesia membeli 100% saham
beredar dari German Company, sebuah peruhasaan yang berlokasi di Berlinseharga
Rp 660.000.000,- Harga tersebut lebih tinggi Rp 60.000.000,- dari nilai buku (Perhitungan
diferensial akan ditunjukkan pada akhir bagian). Selisih lebih harga perolehan
diatas nilai buku dialokasikan ke paten ang diamortisasi selama 10 tahun.Akun
neraca dalam format neraca percobaan untuk kedua perusahaan sesaat sebelum
diakuisisi disajikan figur 12 – 2
2. Mata
uang lokal German Company adalah euro (€) yang juga merupakan mata ang
fungsionalnya
3. Tanggal
1 Oktober 2011, anak perusahaan mengumumkan dan membayar dividen sebesar €6.250
4. Anak
perusahaan menerima Rp 72.000.000,- dari transaksi dengan perusahaan Indonesia pada saat kurs adalah €1
= Rp 16.000,- .Anak perusahaan masih memiliki mata uang asing tersebut pada
tanggal 31 Desember 2011
5. Kurs
tunai yang terkait (Rp/€) adalah :
--------------------------------------------------------------------------------------
Tanggal Kurs
-------------------------------------------------------------------------------------
1
Januari 2011 Rp 16.000,-
1
Oktober 2011 Rp 17.000,-
31
Desember 2011 Rp 18.000,-
Rata
- rata 2011 Rp 17.000,-
--------------------------------------------------------------------------------------
FIGUR 12 - 2
Akun - akun
Neraca untuk Kedua Perusahaan pada tanggal 1 Januari 2011 (sesaat sebelum
akuisisi 80 % saham German Company oleh PT Induk, Perusahaan Indonesia)
----------------------------------------------------------------------------------------------
PT
Induk German Company
----------------------------------------------------------------------------------------------
Kas Rp 350.000.000
€ 2.500
Piutang 75.000.000 10.000
Persediaan 100.000.000 7.500
Tanah 175.000.000 0
Aset Tetap 800.000.000 50.000
Total Debit 1.500.000.000 € 70.000
=========== ======
Akumulasi Depresiasi Rp 400.000.000
€ 5.000
Utang Usaha 100.000.000 2.500
Utang Obligasi 200.000.000 12.500
Saham Biasa 500.000.000 40.000
Saldo Laba, 31/12/2010 300.000.000 10.000
Total Kredit 1.500.000.000 € 70.000
-=========== ======
Kertas Kerja Translasi pada Tanggal Akuisisi
Figur
12-3 menyajikan translasi neraca percobaan German Company pada tanggal 1
januari 20X1, ilustrasi ini mengasumsikan bahwa pembukuan dan pencatatan anak
perusahaan dalam euro Eropa, mata uang fungsional anak perusahaan.
FIGUR
12 - 3
Kertas Kerja untuk mentranslasi Anak
Perusahaan di Luar Negeri pada tanggal 1 Januari 2011 (tanggal akuisisi) .Mata
Uang Fungsional adalah Uero Eropah.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
German Company Kurs Nerca Perc.(Rp)
------------------------------------------------------------------------------------------------
Kas
€
2.500 16.000 40.000.000
Piutang
10.000 16.000 160.000.000
Persediaan 7.500 16.000 120.000.000
Tanah
0 16.000 0
Aset
Tetap 50.000 16.000 800.000.000
Total
Debit 70.000
1.120.000.000
=======
Akumulasi
Depresiasi € 5.000 16.000 80.000.000
Utang
Usaha 2.500 16.000 40.000.000
Utang
Obligasi 12.500 16.000 200.000.000
Saham
Biasa 40.000 16.000 640.000.000
Saldo
Laba, 31/12/2010 10.000 16.000 160.000.000
Total
Kredit 70.000 1.120.000.000
-======= ===========
Ayat Jurnal PT Induk untuk mencatat
pembelian 100% saham German Company:
(1) Investasi pada saham German Company 860.000.000
Kas 860.000.000
Mencatat investasi pada saham PT GC
Neraca Konsolidasi pada Tanggal Akuisisi
Ayat
Jurnal Eliminasi 1 Januari 2011,
E
(2) Saham Biasa - German Company 640.000.000
Saldo Laba 160.000.000
Diferensial
60.000.000
Investasi pada saham PT German Company 860.000.000
Mengeliminasi
investasi awal.
E (3) Paten 60.000.000
Diferensial 60.000.000
Mengeliminasi
diferensial
Setelah Tanggal
Akuisisi
Akuntansi setelah tanggal akuisisi
sangat mirip dengan akuntansi yang digunakan untuk anak perusahaan domestik.
Perbedaan utama timbul karena pengaruh perubahan kurs mata uang asing.
Ilustrasi, terdapat akun Unit Mata Uang
Asing dalam neraca percobaan German Company . Akun ini mencerminkan rupiah
sebesar Rp 72.000.000,- dalam neraca percobaan anak perusahaan. Oleh karena
akun ini didenominasi dalam mata uang asing selain mata uang pelaporan mata
uang asing. German Company membuat ayat jurnal penyesuaian untuk menilai
kembali akun dari jumlah awal yang dicatat menggunakan kurs pada tanggal
perusahaan meneriama mata uang menjadi nilai setara dari kurs pada akhir tahun.
FIGUR
12 - 4
1 Januari 2011, Kertas Kerja untuk
Neraca Konsolidasi, Tanggal Akuisisi 100% Pembelian pada Harga diatas Nilai
buku (dalam ribuan rupiah).
--------------------------------------------------------------------------------------------------
German Eliminasi
PT Induk Company Debit Kredit Konsolidasi
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Kas
2.840.000
40.000 2.880.000
Piutang 750.000 160.000 910.000
Persediaan 1.000.000 120.000 1.120.000
Tanah
1.550.000 0 1.550.000
Aset
Tetap 8.000.000 800.000 8.800.000
Investasi
860.000 (2) 860.000
Diferensial (2) 60.000 (3) 60.000
Paten (3) 60.000 60.00
-------------- ------------ ------------
Total
D 15.000.000 1.120.000 15.320.000
=========
======== ========
Ak.
Dep 4.000.000 80.000 4.080.000
U.Usaha 1.000.000
40.000 1.040.000
U.
Obligsi 2.000.000 200.000 2.200.000
S.
Biasa 5.000.000 640.000 (2) 640.000 5.000.000
S.Laba 3.000.000 160.000 (2) 160.000 3.000.000
------------- ----------- ------------ ------------ ------------
Total
K 15.000.000 1.120.000 920.000 920.000 15.320.000
========= ========
====== ======= =========
Anak Perusahaan membuat jurnal berikut
dalam pembukuannya pada waktu menerima rupiah
(4)
Unit Mata Uang Asing (Rp) €4.500
Penjualan €4.500
Mencatat penjualan dan penerimaan Rp 72.000.000,-kurs
tunai Rp 16.000,-
Pada 31 Desember 2011, anak perusahaan
menyesuaikan unit mata uang asing (rupiah) ke kurs sekarang (Rp 18.000 =€1)
dengan membuat ayat jurnal berikut :
(5)
Kerugian Transaksi Mata Uang Asing €500
Unit Mata Uang Asing (Rp0 €500
Catatan : Kerugian transaksi mata uang
asing adalah komponen dari laba neto anak perusahaan.dan akun unit MUA
diklasifikasikan sebagai aset lancar di neraca anak perusahaan.
Laba neto anak perusahaan terdiri dari
Penjualan -(HPP + Biaya Operasional + Kerugian TMUA)
Kepemilikan
Minoritas Pada Anak Perusahaan Luar Negeri
Sebagian besar
perusahaan Indonesia lebih suka untuk memiliki 100% anak perusahaan luar
negerinya. Dengan demikian akan memungkinkan manajemen yang lebih efisien atas
anak perusahaan dan tidak ada keharusan untuk menyusun laporan keuangan anak
perusahaan untuk kepentingan minoritas. Akan tetapi, jika anak perusahaan luar
negeri tidak dimiliki sepenuhnya, maka kepemilikan minoritas harus dihitung dan
diperlakukan sebagaimana dijelaskan pada bab sebelumnya. Satu-satunya perbedaan
adalah alokasi selisih translasi yang timbul dari translasi akun neraca
percobaan anak perusahaan luar negeri.
1.5
PENGUKURAN
KEMBALI PEMBUKUAN KE DALAM MATA UANG FUNGSIONAL
Metode kedua untuk
menyajikan kembali laporan keuangan afiliasi luar negeri kerupiah adalah
pengukuran kembali. Walaupun pengukuran kembali tidak umum sebagaimana
translasi, terdapat beberapa situasi dimana mata uang fungsional dari afiliasi
asing bukan mata uang lokal. Pengukuran
kembali sama seperti translasi dimana tujuannya adalah untuk mendapatkan nilai
serta rupiah dari akun-akun afiliasi sehingga dapat digabungkan atau
dikonsolidasikan dengan laporan keuangan perusahaan Indonesia. Akan tetapi,
kurs yang digunakan untuk pengukuran kembali berbeda dengan kurs yang digunakan
dalam translasi, yang menghasilkan nilai rupiah yang berbeda untuk akun-akun
afiliasi asing.
Dalam sebagian besar
kasus, afiliasi asing dapat dianggap sebagai alat produksi atau penjualan
langsung dari perusahaan Indonesia, tetapi menggunakan mata uang lokal untuk
mencatat dan melaporkan hasil operasinya. Selain itu, entitas luar negeri yang
berlokasi dinegara dengan tingkat inflasi yang sangat tinggi, yang
didefinisikan sebagai negara deengan tingkat inflasi kumulatif lebih dari 100%
harus menggunakan rupiah sebagai mata uang fungsional dan laporan keuangannya
diukur kembali menjadi rupiah.
Proses pengukuran
kembali harus memberikah hasil akhir yang sama seakan-akan entitas luar negeri
sejak awal dicatat dalam rupiah. Oleh karena itu, beberapa transaksi dan saldo
akun disajikan kembali menjadi nilai setara rupiah menggunakan kurs historis,
yaitu kurs tunai pada saat awal transaksi terjadi. Proses pengukuran kembali
membagi neraca menjadi akun moneter dan non moneter. Aset dan kewajiban
moneter, seperti kas, piutang jangka pendek dan jangka panjang, dan utang
jangka pendek dan jangka panjang, mempunyai jumlah yang tetap dalam unit mata
uang. Akun-akun ini dapat mengalami keuntungan dan kerugian dari perubahan kurs
aset non moneter adalah akun-akun seperti persediaan dan aset tetap, yang
nilaninya tidak tetap dalam unit moneter.
Oleh karena diganakan
berbagai kurs untuk mengukur kembali neraca percobaan mata uang asing, maka
debet dan kredit dalam neraca percobaan setara rupiah tidak akan sama. Dalam
kasus ini pos penyeimbang adalah keuntungan atau kerugian pengukuran kembali,
yang dimasukkan dalam laporan laba rugi periode berjalan.
Penyajian Laporan Keuangan dari Keuntungan atau
Kerugian Pengukuran Kembali
Setiap
keuntungan atau kerugian yang timbul dari proses pengukuran kembali dimasukkan
dalam laporan laba rugi periode berjalan, umumnya dalam “pendapatan lain-lain”.
Digunakan beberapa nama akun seperti keuntungan (kerugian) mata uang asing.
Keutungan (kerugian) mata uang, keuntungan (kerugian) nilai tukar, atau
keuntungan (kerugian) pengukuran kembali. Pos keuntungan (kerugian) pengukuran
kembali digunakan disini karena nama ini paling menggambarkan seumber pos tsb.
Keuntungan atau kerugian pengukuran kembali dimasukkan dalam laporan laba rugi
periode berjalan karena jika transaksi sejak awal dicatat dalam rupiah, maka
keuntungan atau kerugian nilai tukar akan diakui dalam periode berjalan sebagai
bagian dari penyesuaian yag diharuskan untuk penilaian transaksi luar negeri
yang didominasi dalam mata uang asing. Setelah menyelesaikan proses pengukuran
kembali, laporan keuangan entitas luar negeri akan disajikan seakan akan rupiah
telah digunakan untuk mencatat transaksi dalam mata uang lokal pada saat
terjadinya
Ilustrasi
Pengukuran Kembali Anak Perusahaan Luar Negeri
Untuk
menyajikan kembali laporan keuangan, akan digunakan contoh Germany Company .
satu-satunya perbedaan dengan contoh translasi sebelumnya dan contoh sekarang
adalah mata uang fungsional anak perusahaan luar negeri sekarang diasumsikan
sebagai rupiah bukan euro eropa. Germany Company dalam pembukuan dan
pencatatannya menggunakan euro untuk menghasilkan laporan yang diharuskan untuk
pemerintah Germany. Oleh karena itu rupiah adalah mata uang fungsional, maka
laporan keuangan Germany Company akan diukur kembali dalam rupiah. Setelah
laporan keuangan afiliasi luar negeri diukur kembali, maka proses konsolidasi
akan sama dengan anak perusahaan domestik.
Akun-akun
yang diukur kembali menggunakan kurs historis:
|
Efek
Berharga :
Efek Ekuitas
Efek Utang yang tidak diniatkan untuk dipegang sampai jatuh tempo
Persediaan
Biaya
dibayar dimuka seperti asuransi, iklan, dan sewa.
Aset
tetap
Akumulasi
depresiasi aset tetap
Paten,
merk dagang, lisensi dan formula
Goodwill
Aset
tak berwujud lainnya
Beban
dan kredit yang ditangguhkan
Pendapatan
ditangguhkan
Saham
biasa
Saham
Preferen
Pendapatan
dan beban terkait dengan pos moneter sebagai contoh:
Harga pokok penjualan
Depresiasi aset tetap
Amortisasi aset tetap
Amortisasi aset tak berwujud
Amortisasi beban dan kredit
ditangguhkan
|
Ikhtisar Translasi dan Pengukuran Kembali
Pada
saat mata uang fungsional adalah rupiah, maka pos moneter dineraca akan diukur
kembali menggunakan kurs historis. Dalam contoh ini, kurs langsung telah
meningkat selama periode berjalan. Sehingga akun moneter lebih rendah pada saat
diukur kembali dibandingkan saat ditranslasikan.
Ikhtisar
Proses Translasi dan Pengukuran Kembali
|
Pos
|
Proses Translasi
|
Proses Pengukuran Kembali
|
|
Mata uang fungsional entitas luar negeri
|
Unit mata uang lokal
|
Rupiah Indonesia
|
|
Metode yang digunakan
|
Metode kurs sekarang
|
Metode moneter dan nonmoneter
|
|
Akun-akun laba rugi:
Pendapatan
Beban
|
Kurs rata-rata tertimbang
Kurs rata-rata tertimbang
|
Kurs rata-rata tertimbang, kecuali pendapatan terkait dengan pos
nonmoneter (kurs historis)
Kurs rata-rata tertimbang, kecuali beban terkait
dengan pos nonmoneter (kurs historis)
|
|
Akun-akun Neraca:
Akun-akun moneter
Akun-akun
nonmoneter
Akun-akun
modal pemegang saham
Saldo
laba
|
Kurs Sekarang
Kurs sekarang
Kurs Historis
Saldo laba sebelumnya ditambah laba dikurangi
deviden
|
Kurs
sekarang
Kurs historis
Kurs historis
Saldo periode sebelumnya ditambah laba dikurangi
deviden
|
|
Selisih kurs yang timbul dari proses
|
Selisih translasi diakumulasikan di ekuitas
pemegang saham
|
Keuntungan atau kerugian pengukuran kembali yang
dimasukkan dalam laporan laba rugi periode berjalan
|
1.6
INVESTASI
LUAR NEGERI DAN ANAK PERUSAHAAN TIDAK DIKONSOLIDASIKAN
Sebagian besar
perusahaan mengkonsolidasikan anak perusahaan luar negeri sesuai dengan PSAK No
4, “Laporan Keuangan Konsolidasi” (PSAK 4). Dalam beberapa kasus, anak
perusahaan tersebut tidak dikonsolidasi, karena kriteria yang diterapkan untuk anak perusahaan luar negeri. Umumnya
induk perusahaan mengkonsolidasikan anak perusahaan luar negeri, kecuali jika
salah satu kondisi berikut sangat ketat sehingga perusahaan Indonesia yang
memiliki perusahaan luar negeri tidak dapat melaksanakan tingkat pengendalian
ekonomis atas sumber daya dan operasi keuangan anak perusahaan luar negeri yang
merupakan syarat konsolidasi, seperti berikut ini :
1. Pembatasan
pertukaran mata uang asing di negara asing
2. Pembatasan
transfer properti di negara asing
3. Ketidakpastian
lain yang diterapkan oleh pemerintah
Anak
perusahaan luar negeri yang tidak dikonsolidasi dilaporkan sebagai investasi
dalam neraca perusahaan Indonesia. Perusahaan investor Indonesia harus
menggunakan metode ekuitas jika mempunyai kemampuan untuk melaksanakan
“pengaruh signifikan” atas kebijakan keuangan dan operasional investee. Jika
metode ekuitas tidak dapat diterapkan, maka digunakan metode biaya untuk
mencatat investasi luar negeri, mengakui pendapatan hanya dari deviden yang
diterima.
Likuidasi Investasi Luar Negeri
Akun
selisih translasi terkait langsung dengan investasi perusahaan dientitas luar
negeri. Jika investor menjual sebagian besar investasi sahamnya, PSAK 11
mengharuskan porsi pro rata dari akun akumulasi selisih translasi yang
dialokasikan ke investasi, dimasukkan dalam perhitungan keuntungan atau
kerugian pelepasan investasi. Sebagai contoh jika induk perusahaan menjual 30%
dari investasi pada anak perusahaan, 30% dari selisih translasi kumulatif harus
dikeluarkan dari akun selisih translasi dan dimasukkan dalam perhitungan
keuntungan atau kerugian dari pelepasan investasi luar negeri.
1.7
LINDUNG
NILAI INVESTASI BERSIH DI ANAK PERUSAHAAN LUAR NEGERI
PSAK 55 memperbolehkan
lindung nilai investasi bersih dianak perusahaan luar negeri. Sebagai contoh PT
Induk mempunyai investasi bersih sebesar $ 50.000 dianak perusahaan German,
yang dibayar seharga Rp 660.000.000. PT Induk dapat memutuskan untuk melindung
nilai investasi aset bersih dengan melakukan kontrak kurs dimuka untuk menjual
euro, atau perusahaan dapat mengeluarkan kewajiban berbasis euro. PSAK 55
menetapkan bahawa keuntungan atau kerugian dari bagian efektif lindung nilai
investasi bersih dimasukkan dalam pendapatan komprehensif lainnya sebagai
bagian dari selisih translasi. Akan tetapi, jumlah penggantian kerugian untuk
pendapatan komprehensif dibatasi sebesar selisih translasi untuk investasi
bersih. Sebagai contoh, jika digunakan nilai tukar dimuka untuk mengukur
efektivitas, jumlah penggantian kerugian dibatasi sebesar perubahan kurs tunai
periode tersebut. Selisih lebih atas bagian tidak efektif dari lindung nilai
harus diakui dalam laba periode berjalan.
1.8
KEHARUSAN
PENGUNGKAPAN
PSAK 10 mengharuskan
agregat keuntungan atau kerugian transaksi mata uang asing yang dimasukkan
dalam laba untuk diungkapkan terpisah dalam laporan laba rugi atau dalam
catatan ataas laporan keuangan.
Dalam metode translasi,
perubahan berkala dalam selisih translasi dilaporkan sebagai elemen pendapatan
komprehensif lainnya, sebagaimana diharuskan oleh PSAK 11. Didalam PSAK 11
mengharuskan pengungkapan catatan kaki dari perubahan kurs yang terjadi antara tanggal
neraca dan pengaruhnya terhadap transaksi mata uang asing yang belum
diselesaikan, jika signifikan.
1.9
PERTIMBANGAN
TAMBAHAN DALAM AKUNTANSI UNTUK OPERASI ENTITAS LUAR NEGERI
Bagian ini membahas
topic khusus dalam akuntansi untuk perusahaan multinasional. Walaupun beberapa
pertimbangan ini sangat teknis, pembelajaran bagian ini akan menambah pemahaman
anda atas berbagai isu akuntansi untuk entitas luar negeri.
Kertas Kerja Konsolidasi untuk Kasus Pengukuran
Kembali
Kertas
kerja konsolidasi untuk kasus pengukuran kembali pada figure 12-3. Akun-akun
untuk German Company diperoleh dari akun-akun pengukuran kembali yang dihitung
pada figure 12-9. Keuntungan pengukuran kembali dimasukkan dalam neraca
percobaan anak perusahaan German karena sumber dari akun tersebut adalah
pengukuran kembali akun-akun anak perusahaan.
Pembuktian Keuntungan Pengukuran Kembali
Penyajian
dalam bab ini mengenai proses pengukuran kembali untuk anak perusahaan German
yang ditunjukkan pada figure 12-9, terlihat diperlukan keuntungan pengukuran
kembali sebesar Rp 10.000.000 sebagai pos penyeimbang untuk menyamakan neraca
percobaan. Pos penyeimbang ini dapat dibuktikan. Analisis tersebut terutama
melibatkan pos moneter, karena pos-pos tersebut diukur kembali dari kurs awal
periode, atau kurs pada tanggal terjadinya transaksi menjadi kurs akhir
periode. Peningkatan atau penurunan aset moneter bersih dari pengukuran kembali
akan diakui sebagai keuntungan atau kerugian nilai tukar periode berjalan.
Laporan Arus Kas
Laporan
arus kas adalah penghubung antara dua neraca. Perusahaan mempunyai kebebasan
dan fleksibilitas dalam penyusunan laporan arus kas. Aturan umum adalah bahwa
akun-akun yang dilaporkan dalam laporan arus kas harus disajikan kembali dalam
rupiah menggunakan kurs yang sama dengan yang digunakan untuk tujuan neraca dan
laporan laba rugi. Oleh karena kurs rata-rata digunakan dalam laporan laba rugi
dan kurs tunai akhir (kurs sekarang) digunakan dalam neraca, maka muncul pos
penyeimbang untuk selisih kurs dalam laporan arus kas. Pos penyeimbang ini
dapat dianalisis dan ditelusuri ke akun spesifik yang menghasilkan perbedaan
tersebut, tetapi tidak memengaruhi perubahan dalam arus kas periode tersebut.
Penilaian Persediaan Nilai Terendah antara Biaya
Perolehan dan Nilai Pasar dalam Pengukuran Kembali
Penerapan
aturan nilai antara biaya perolehan dan nilai pasar untuk persediaan memerlukan
perlakuan khusus pada saat mata uang pencatatan bukan mata uang fungsional.
Oleh karena itu, laporan keuangan entitas asing harus diukur kembali kedalam
mata uang fungsional. Biaya inventaris historis harus diukur kembali terlebih
dahulu menggunakan kurs historis untuk menentukan nilai biaya perolehan
historis dalam mata uang fungsional. Kemudian biaya perolehan hasil pengukuran
kembali ini dibandingkan dengan nilai pasar dari persediaan yang ditranslasikan
menggunakan kurs sekarang. Langkah terakhir adalah membandingkan biaya
perolehan dan nilai pasar, yang keduanya sudah dalam mata uang fungsional dan
untuk mengakui apakah diperlukan penurunan nilai kenilai pasar. Perbandingan
dilakukan dalam mata uang fungsional, bukan mata uang lokal atau pelaporan,
sehingga memungkinkan adanya penurunan nilai dalam laporan keuangan mata uang
fungsional, tetapi tidak ada dalam pembukuan anak perusahaan atau ada dalam
pembukuan anak perusahaan tetapi tidak dalam laporan konsolidasi.
Transaksi Antarperusahaan
Sebuah
induk perusahaan atau kantor pusat Indonesia dapat mempunyai transaksi
penjualan atau pembelian antar perusahaan dengan afiliasi luar negeri yang
menimbulkan piutang atau utang antar perusahaan. Proses translasi piutang atau
utang yang didominasi didalam mata uang asing dibahas di bab 11. Sebagai contoh
asumsikan bahwa perusahaan Indonesia mempunyai piutang yang didominasi dalam
mata uang asing dari anak perusahaan luar negeri. Perusahaan Indonesia akan
pertama-tama menilai kembali piutang yang didominasi dalam mata uang asing
menjadi nilai setara rupiah pada tanggal laporan keuangan. Setelah laporan
keuangan afiliasi luar negeri ditranslasikan atau diukur kembali, tergantung
mata uang fungsional afiliasi luar negeri, maka piutang atau utang
anatarperusahaan akan mempunyai nilai rupiah yang sama dan dapat dieliminasi.
Jika
transaksi mata uang asing antarperusahaan tidak akan dilunasi dalam waktu
dekat, maka transaksi antarperusahaan tersebut dianggap bagian dari investasi
bersih dientitas luar negeri. Selisih translasi dari piutang atau utang jangka
panjang ditangguhkan dan diakumulasi sebagai bagian dari akun translasi
kumulatif.
Pajak Penghasilan
Diharuskan
alokasi pajak antarperiode pada saat ada perbedaan temporer dalam pengakuan
pendapatan dan beban untuk tujuan laporan laba rugi dan untuk tujuan pajak.
Keuntungan dan kerugian selisih kurs dari transaksi mata uang asing
mengharuskan adanya pengakuan pajak tangguhan jika dimasukkan dalam laba tetapi
diakui untuk tujuan pajak dalam periode yang sama.
Translasi Ketika Mata Uang Ketiga adalah Mata Uang
Fungsional
Jika
pembukuan dan pencatatan entitas tidak dinyatakan dalam mata uang fungsional,
maka harus digunakan proses dua langkah berikut :
1. Mengukur
kembali laporan keuangan anak perusahaan ke dalam mata uang fungsional. Sebagai
contoh laporan keuangan yang dinyatakan dakan euro akan diukur kembali kedalam
franc swiss. Proses pengukuran kembali akan sama dengan yang di ilustrasikan
sebelumnya. Laporan keuangan tersebut sekarang sudah dinyatakan dalam mata uang fungsional entitas yaitu
franc swiss.
2. Laporan
keuangan yang dinyatakan dalam franc swiss kemudian ditranslasikan kedalam
rupiah menggunakan proses translasi yang di ilustrasikan sebelumnya.
Hal
ini jarang terjadi dalam praktik tetapi merupakan hal yang perlu dipertimbangkan
bagi anak perusahaan yang mempunyai aktivitas usaha signifikan dalam mata uang
selain mata uang negara tempat berlokasi. Pembahasan ini mengidikasikan bahwa
penting untuk pertama-tama mengidentifikasi mata uang fungsional entitas
sebelum memulai proses translasi.
KOMENTAR
Untuk menyajikan
kembali laporan keuangan entitas asing ke dalam rupiah, terdapat dua metode
yang berbeda :
·
Translasi laporan
keuangan entitas asing ke rupiah, dan
·
Pengukuran kembali
laporaan keuangan entitas asing ke mata uang fungsional entitas tersebut ,
selanjutnya ditranslasi jika bukan dalam rupiah.
Penyajian laporan
keuangan afiliasi luar negeri dalam rupiah dapat dilakukan dengan menggunakan
metode translasi atau metode pengukuran kembali, tergantung mata uang
fungsional entitas luar negeri. Sebagian besar laporan keuangan afiliasi luar
negeri ditranslasikan menggunakan metode kurs sekarang karena umumnya unit mata
uang lokal adalah mata uang fungsional. Pengukuran kembali dilakukan untuk
mengubah laporan keuangan entitas luar negeri dari mata uang lokal ke dolar.
Pemilihan mata uang fungsional mempengaruhi penilaian akun entitas luar negeri
yang dilaporkan dalam laporan keuangan konsolidasi.
Ada tiga kemungkinan
nilai tukar yang digunakan dalam mengkonversi nilai mata uang asing menjadi
rupiah :
1)
Nilai Tukar Sekarang
merupakan nilai tukar pada akhir hari tanggal neraca
2)
Nilai Tukar Historis
merupakan nilai tukar yang ada pada saat transaksi awal terjadi seperti nilai
tukar pada saat aset diterima atau kewajiban diakui
3)
Nilai Tukar Rata-rata
merupakan nilai tukar rata-rata selama suatu periode
Komentar
Posting Komentar