TRANSAKSI MATA UANG ASING DAN INSTRUMEN KEUANGAN



AKUNTANSI MULTINASIONAL: TRANSAKSI MATA UANG ASING DAN INSTRUMEN KEUANGAN
Dosen Pengampu :
Dania Puspitasari SST., MSA

Disusun Oleh :
ATIKA DWI  LESTARI                         (1510421002)



FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
2018



1.1         PERMASALAHAN AKUNTANSI
Akuntan harus dapat mencatat dan melaporkan transaksi yang melibatkan pertukaran dolar AS dan mata uang asing perusahaan Indonesia meliputi penjualan, pembelian, dan transaksi lain yang menimbulkan perpindahan mata uang asing atau pencatatan piutang atau utang yang didenominasikan yaitu yang nilainya akan dilunasi dalam suatu mata uang asing. Oleh karena laporan keuangan dari hampir semua perusahaan Indonesia menggunakan rupiah sebagai mata uang pelaporan, maka transaksi dalam mata uang asing lain harus disajikan kembali dalam (setara) rupiah sebelum dicatat di pembukuan dan dimasukkan dalam laporan keuangan perusahaan. Proses penyajian kembali transaksi mata uang asing dalam (setara) nilai rupiah disebut sebagai penjabaran atau translasi.
Selain itu, banyak perusahaan di Indonesia yang mempunyai operasi multinasional, seperti adanya anak perusahaan atau cabang di luar negeri. Sebagai contoh, produsen mie instan Indonesia mempunyai anak perusahaan di Kanada, Meksiko, Spanyol, dan Nigeria. Anak perusahaan tersebut menyusun laporan keuangan dalam mata uang negara mereka; sebagai contoh, anak perusahaan di Meksiko melakukan operasinya dalam peso. Nilai mata uang asing dalam laporan keuangan anak perusahaan ini harus di translasikan atau dijabarkan, yaitu disajikan kembali dalam (setara) rupiah, sebelum dikonsolidasikan dengan laporan keuangan induk perusahaan menggunakan rupiah sebagai satuan mata uang pelaporan.
Bab ini menjelaskan prosedur akuntansi untuk pencatatan dan pelaporan transaksi dalam mata uang asing. PSAK 10 "Transaksi Mata Uang Asing", diterbitkan tahun 1994, mengatur prosedur akuntansi untuk piutang dan utang dagang dengan mata uang asing yaitu transaksi yang membutuhkan pembayaran ataupun menerima pembayaran dalam mata uang asing. PSAK 50 "Instrumen Keuangan Penyajian dan Pengungkapan" dan PSAK 55 "Instrumen Keuangan Pengakuan dan Pengukuran " diterbitkan pada 2006, mengatur prosedur akuntansi untuk instrumen keuangan khususnya transaksi derivatif dengan tujuan melakukan lindung nilai (hedging).


1.2         KURS MATA UANG ASING
Sebelum tahun 1972, sebagian besar mata uang dinilai dari standar logam emas yang mempunyai nilai tetap secara internasional setiap onsnya. Namun, pada tahun 1972, sebagian besar negara menandatangani suatu perjanjian yang memperbolehkan nilai mata uang mereka "mengambang (float)" berdasarkan permintaan dan penawaran terhadap mata uang tersebut. Kurs mata uang asing (foreign currency exchange rates) ditentukan setiap hari oleh pedagang mata uang asing yang bertindak sebagai agen untuk individu atau negara yang memperdagangkan mata uang asing. Beberapa negara, seperti Cina, menetapkan kurs tetap resmi dan kurs tetap untuk dividen yang dikirimkan ke luar negeri. Kurs resmi ini dapat berubah sewaktu-waktu dan perusahaan yang beroperasi diluar negeri perlu berkomunikasi dengan pemerintah negara tersebut untuk memastikan bahwa perusahaannya telah memenuhi setiap ketentuan pembatasan pertukaran mata uang.
Penentuan Kurs
Mata uang suatu negara mirip dengan komoditas lain, dan kursnya berubah karena sejumlah faktor ekonomi yang mempengaruhi permintaan dan penawaran terhadap mata uang tersebut. Sebagai contoh, jika suatu negara sedang mengalami tingkat inflasi yang tinggi, daya beli mata uangnya akan turun. Penurunan nilai suatu mata uang dicerminkan oleh penurunan posisi mata uang negara tersebut relatif terhadap mata uang negara lain. Faktor lain yang menyebabkan fluktuasi kurs adalah neraca pembayaran, perubahan suku bunga, dan tingkat investasi negara tersebut, serta stabilitas dan proses tata kelola (governance).
Kurs Langsung dan Tidak Langsung
v Kurs Langsung
Kurs Langsung (direct exchange rate - DER) adalah banyaknya unit mata uang lokal (local currency units - LCUs) yang diperlukan untuk memperoleh satu unit mata uang asing (foreign currency unit - FCU). Dari sudut pandang entitas Indonesia, kurs langsung dapat dipandang sebagai besarnya rupiah untuk memperoleh satu unit mata uang asing. Rasio dari kurs langsung dinyatakan sebagai berikut, dengan LCU, yaitu rupiah, sebagai pembilang :
Kurs langsung paling sering digunakan dalam akuntansi untuk operasi dan transaksi asing sebab akun-akun dalam mata uang asing harus ditranslasikan dalam nilai setara rupiah. Sebagai contoh, jika dengan Rp9.200 dapat diperoleh 1 dolar AS, kurs langsung dari rupiah terhadap dolar AS adalah sebesar Rp9.200, seperti ditunjukkan sebagai berikut :
v Kurs Tidak Langsung
Kurs Tidak Langsung (indirect exchange rate - IER) adalah kebalikan dari kurs langsung . Dari sudut pandang entitas Indonesia, kurs tidak langsung adalah :
Kurs tidak langsung untuk contoh dolar AS di atas adalah sebesar :
Cara lain untuk merumuskan hal ini :
Perubahan Kurs
Perubahan kurs mengacu pada semakin menguat atau melemahnya suatu mata uang dibandingkan dengan mata uang yang lain. Sebagai contoh, kurs rupiah terhadap dolar AS berubah sebagai berikut :

1 Januari 2005
1 Juli 2005
1 Januari 2006
1 Juli 2006
Kurs langsung (setara rupiah dari 1 FCU)
Rp9.350
Rp9.200
Rp9.180
Rp9.280
Kurs tidak langsung (FCU per Rp1)
$0,0001070
$0,0001087
$0,0001089
$0,0001078

Menguatnya Rupiah-Penurunan Kurs Langsung
Antara tanggal 1 Januari 2005 dan 1 Juli 2005, kurs langsung turun dari Rp9.350 = $1 menjadi Rp9.200 = $1, ini menunjukkan bahwa lebih sedikit mata uang rupiah yang diperlukan untuk memperoleh 1 dolar AS. Untuk memperoleh 1 dolar AS diperlukan nilai rupiah sebesar Rp 9.350 pada tanggal 1 Januari, namun berkurang menjadi Rp 9.200 pada tanggal 1 Juli. Berarti bahwa nilai mata uang rupiah meningkat terhadap dolar AS. Ini diistilahkan sebagai menguatnya rupiah terhadap dolar. Sebagai alternatif, lihat pada kurs tidak langsung, 1 rupiah dapat memperoleh $0,0001070 pada tanggal 1 Januari, dan lebih banyak nilai dolar lagi sebesar $0,0001087 pada tanggal 1 Juli. Oleh karenanya nilai relatif rupiah terhadap dolar lebih besar pada tanggal 1 Juli dibandingkan 1 Januari.
Ingatlah bahwa menguatnya rupiah berarti :
·      Lebih sedikit mata uang rupiah yang diperlukan untuk memperoleh satu unit mata uang asing
·      Satu rupiah memperoleh lebih banyak unit mata uang asing
Impor dari Amerika akan lebih murah untuk konsumen Indonesia pada tangal 1 Juli dibandingkan 1 Januari karena menguatnya rupiah. Sebagai contoh, asumsikan bahwa suatu perusahaan manufaktur Amerika menjual mobil buatan Amerika seharga $25,000. Untuk menentukan nilai setara rupiah dari $25.000 pada tanggal 1 Januari, digunakan perhitungan sebagai berikut :
Nilai setara rupiah       =  Unit mata uang asing        x          kurs langsung
Rp 233.750.000             =      $25.000                           x           Rp 9.350
Antara tangal 1 Juli dan 1 Januari, kurs langsung turun saat dolar menguat relatif terhadap uero. Pada tanggal 1 Juli, nilai setara rupiah dari US$25.000 adalah :
Nilai setara rupia Indo = Unit mata uang asing        x          kurs langsung
Rp 230,000.000             =      $ 25.000                          x          Rp 9.200
Meskipun menguatnya rupiah akan menguntungkan bagi perusahaan Indonesia yang membeli barang dari negara lain, penguatan ini mempunyai dampak negatif pada perusahaan Indonesia yang menjual produk di negara tersebut. Bersamaan dengan menguatnya rupiah, ekspor Indonesia ke Amerika akan lebih mahal bagi pelanggan Amerika. Sebagai contoh, asumsikan bahwa perusahaan manufaktur Indonesia  menjual mesin buatan Indonesia seharga Rp100.000.000. untuk menentukan nilai setara mata uang asing (dolar) dari Rp100.000.000 pada tanggal 1 Januari  digunakan perhitungan berikut :
Nilai setara mata uang asing = Unit mata uang rupiah x kurs  tidak  langsung
            $10.700                                 =      Rp 100.000.000         x        $0,0001070
Pada tanggal 1 Juli, setelah terjadi penguatan dolar, mesin akan membebankan pelanggan Amerika $10.870 dengan perhitungan sebagai berikut :
 Nilai setara mata uang asing = Unit rupiah Indonesia x kurs  tidak  langsung
            $10.870                                 =    Rp 100.000.000          x    $0,0001087
Peningkatan biaya perolehan yang besar dapat menyebabkan pelanggan Amerika memutuskan untuk tidak membeli mesin tersebut dari perusahaan Indonesia. Oleh karenanya, penjualan internasional perusahaan Indonesia dapat sangat dipengaruhi oleh perubahan kurs mata uang asing.
Melemahnya Rupiah-Peningkatan Kurs Langsung
Antara tanggal 1 Juli 2005 dan 1 Juli 2006, kurs langsung meningkat dari Rp9.200 = $1 menjadi Rp9.280 = $1, ini menunjukkan bahwa lebih banyak mata uang rupiah yang diperlukan untuk memperoleh 1 dolar AS. Pada tanggal 1 Juli 2005, nilai relatif 1 dolar AS adalah Rp 9.200, namun pada tanggal 1 Juli 2006, biaya untuk satu dolar AS meningkat menjadi Rp9.280. Ini berarti bahwa nilai mata uang Indonesia turun terhadap dolar AS dan diistilahkan dengan melemahnya rupiah terhadap dolar AS. Cara lain untuk melihat perubahan ini adalah dengan melihat bahwa kurs tidak langsung mengalami penurunan, ini ditunjukkan bahwa pada tanggal 1 Juli 2006, Rp1 memperoleh lebih sedikit dolar dibandingkan dengan tanggal 1 Juli 2005. Pada tangal 1 Juli 2005, satu rupiah Indonesia dapat memperoleh $0,0001087. Namun pada tanggal 1 Juli 2006, 1 rupiah memperoleh lebih sedikit dolar AS yaitu sebesar $ 0.0001078, ini menunjukkan bahwa relatif rupiah turun diantara tanggal 1 Juli 2005 dan 1 Juli 2006.
Ingatlah bahwa melemahnya rupiah berarti :
·      Lebih banyak mata uang rupiah yang diperlukan untuk memperoleh satu unit mata uang asing
·      Satu rupiah memperoleh lebih sedikit unit mata uang asing
Kurs Tunai (Spot Rate) dan Kurs Sekarang (Current Rate)
PSAK 10 mengacu pada penggunaan kurs tunai maupun kurs sekarang untuk mengukur operasi luar negeri. Kurs tunai (Spot Rate) adalah kurs yang digunakan dalam penyerahan segera suatu mata uang. Kurs sekarang (Current Rate) didefinisikan secara sederhana sebagai kurs tunai pada tanggal neraca suatu entitas.
Kurs Masa Depan (Forward Exchange Rate)
Kurs yang ketiga adalah kurs untuk pertukaran mata uang di masa mendatang, atau disebut kurs masa depan. Kurs masa depan pada suatu tanggal tertentu tidak sama dengan kurs tunai pada tanggal yang sama. Ekspektasi yang berbeda terhadap nilai kurs di masa depan menentukan tingkat kurs tersebut. Selisih antara kurs masa depan dengan kurs tunai pada suatu tanggal tertentu dinamakan spread. Spread memberikan informasi tentang kemungkinan penguatan atau pelemahan dari suatu mata uang. Sebagai contoh, diasumsikan bahwa  kurs tunai dari uero Rp14.860 dan kurs masa depan yang jatuh tempo 30 hari Rp13.870. Spread adalah selisih dari ke dua nilai tersebut, yaitu Rp990. Oleh karena kurs masa depan nilainya lebih rendah dari kurs tunai, maka hal ini memberikan ekspektasi bahwa rupiah akan menguat terhadap uero dalam 30 hari ke depan. Aktual kurs tunai pada 30 hari kemudian dapat saja lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan kurs masa depannya. Dengan melakukan kontrak masa depan (forward contract), perusahaan Indonesia tidak hanya memperoleh kesempatan untuk menerima nilai tukar yang lebih baik, tetapi juga sekaligus menghindari kemungkinan terjadinya rugi akibat nilai tukar. Hal ini mengurangi risiko bagi perusahaan Indonesia.
Sebagai contoh, suatu perusahaan Indonesia mempunyai kewajiban dalam poundsterling yang periode jatuh temponya 30 hari. Daripada menunggu 30 hari untuk membeli poundsterling dan mengalami risiko melemahnya nilai dolar relatif terhadap poundsterling, perusahaan dapat datang ke pedagang mata uang asing untuk mengadakan kontrak jual beli mata uang asing di masa depan, berjangka waktu satu bulan dengan kurs masa depan yang berlaku pada tanggal kontrak tersebut dibuat. Kontrak tersebut memungkinkan pembeli untuk menerima poundsterling Inggris dari pedagang mata uang 30 hari dari tanggal kontrak pada harga tetap yang ditentukan di dalam kontrak.
1.3         TRANSAKSI MATA UANG ASING
Transaksi Mata Uang Asing ( foreign currency transactions) adalah aktivitas ekonomi yang dinyatakan  selain dari mata uang  pencatatan suatu entitas. Transaksi tersebut meliputi :
1.    Pembelian atau penjualan barang/jasa (impor atau  ekspor) , dimana harganya dinyatakan dalam mata uang asing.
2.    Utang atau piutang pinjaman dalam mata uang asing
3.    Pembelian atau penjualan kontrak kurs masa depan
4.    Pembelian atau penjualan unit mata uang asing.
Salah satu pihak dalam transaksi mata uang asing harus menukarkan mata uangnya sendiri dengan mata uang negara lain. Dalam praktik bisnis normal diperlukan penyelesaina transaksi dalam mata uang domestik bagi perusahaan yang melakukan penjualan atau memberikan pinjaman, namun persetujuan antara kedua pihak dapat menyebutkan sebaliknya. Beberapa pihak menggunakan singkatan yang mengacu pada transaksi mata uang asing dengan menggunakan huruf FX (singkatan dari foreign exchange) saja.
Untuk tujuan laporan keuangan, transaksi dalam mata uang asing harus ditranslasikan ke dalam mata uang pelaporan yang digunakan perusahaan. Selain itu, pada setiap tanggal neraca - interim maupun tahunan - saldo akun yang dinyatakan dalam mata uang selain mata uang pelaporan dari suatu entitas harus disesuaikan untuk mencerminkan perubahan kurs selama periode tersebut sejak tanggal neraca terakhir atau sejak tanggal transaksi mata uang asing jika transaksi tersebut terjadi pada periode yang bersangkutan. Penyesuaian ini menyatakan kembali akun mata uang asing dalam nilai setara dolar AS pada tanggal neraca. Penyesuaian dalam nilai setara dolar AS ini merupakan keuntungan atau kerugian mata uang asing (foreign currency transaction gain or loss) untuk entitas tersebut pada saat kurs berubah. Sebagai contoh, asumsikan bahwa suatu perusahaan Indonesia memperoleh €5.000 dari bank pada tanggal 1 Januari 20X1, untuk digunakan dalam pembelian barang di masa depan suatu perusahaan Jerman. Kurs langsung sebesar Rp14.200 = €1 sehingga perusahaan membayar bank sebesar Rp71.000.000 untuk €5.000 dengan perhitungan :
Nilai setara dolar AS   = Unit mata uang asing         x          kurs   langsung
Rp   71.000.000             =      €5.000                             x              Rp14.200
Jurnal berikut mencatat pertukaran mata uang tersebut :
(1)   Unit Mata Uang Asing (€)                         Rp 71.000.000
                    Kas                                                                  Rp 71.000.000
Tanda dalam kurung () digunakan setelah akun debit untuk menunjukkan bahwa nilai asset tersebut adalah dalam euro Eropa, namun dicatat dan dilaporkan dalam nilai setara rupiah untuk tujuan akuntansi. Translasi dalam nilai setara rupiah diperlukan untuk menambahkan nilai unit mata uang asing tersebut kepada akun lain yang dilaporkan dalam Rupiah.
Pada tanggal 1 Juli 20X1, kurs sebesar Rp 14.100. kurs langsung mengalami penurunan, yang mencerminkan bahwa rupiah menguat. Pada tanggal 1 Juli, semakin sedikit mata uang rupiah yang diperlukan untuk memperoleh 1 euro dibandingkan pada tanggal 1 Januari. Jika rupiah menguat, maka euro melemah. Dengan memiliki euro selama euro tersebut melemah terhadap dolar, maka perusahaan mengalami kerugian transaksi mata uang asing sebagai berikut :



Nilai setara dolar dari 5.000 pada tanggal 1 Januari:

    5.000 x Rp14.200
Rp71.000.000
Nilai setara dolar dari 5.000 pada tanggal 1 Juli:

    5.000 x Rp14.100
Rp70.500.000
Kerugian transaksi mata uang asing
Rp    500.000
Jika perusahaan Indonesia menyiapkan laporan keuangan pada tanggal 1 Juli, maka diperlukan ayat jurnal penyesuaian berikut :
(2) Kerugian Transaksi Mata Uang Asing                     Rp 500.000
                                    Unit Mata Uang Asing (€)                                          Rp 500.000,-
Kerugian transaksi mata uang asing disebabkan oleh transaksi dalam mata uang asing dan dimasukkan dalam laporan laba rugi periode berjalan, serta pada umumnya disajikan terpisah dalam "keuntungan dan kerugian lain-lain". Beberapa akuntan menggunakan istilah Rugi Kurs daripada Rugi Transaksi Mata Uang Asing yang lebih panjang. Akun Unit Mata Uang Asing dilaporkan sebesar Rp500.000 pada tanggal neraca, setara dengan rupiah pada tanggal tersebut
Pada contoh sebelumnya, perusahaan Indonesia menggunakan rupiah sebagai  mata uang utama dalam melakukan fungsi keuangan dan operasi utama yaitu sebagai mata uang fungsional (functional currency). Selain itu, perusahaan Indonesia juga menyiapkan laporan keuangannya dalam rupiah sebagai mata uang pelaporan (reporting currency). Setiap transaksi yang dinyatakan dalam mata uang selain rupiah memerlukan translasi menjadi nilai setara rupiah. Secara umum, sebagian besar transaksi tunai bisnis dilakukan dalam mata uang lokal negara dimana entitas tersebut beroperasi. Rupiah adalah mata uang fungsional bagi hampir semua perusahaan di Indonesia. Sedangkan perusahaan yang beroperasi di Jerman mungkin akan menggunakan uero (€) sebagai mata uang fungsionalnya.
Transaksi Ekspor dan Impor dalam Mata Uang Asing
Utang dan piutang yang timbul dalam transaksi mata uang asing dengan entitas luar negeri harus diukur dan dinyatakan dalam mata uang asing, harus diukur dan dinyatakan oleh entitas AS  dalam mata uang yang digunakan untuk pencatatan akuntansinya yaitu rupiah. Kurs yang relevan bagi penyelesaian transaksi dalam suatu mata uang asing adalah kurs tunai (spot rate) pada tanggal penyelesaian. Pada tanggal diselesaikan, utang atau piutang dalam unit mata uang asing harus  disesuaikan dengan nilai setara rupiah saat itu. Jika laporan keuangan disusun sebelum utang atau piutang dalam mata uang asing dilunasi, maka saldo akun utang piutang tersebut harus disesuaikan pada tanggal neraca dalam setara rupiah menggunakan kurs sekarang (current rate) pada tanggal neraca.
Gambaran umum atas akuntansi yang diharuskan untuk transaksi impor dan ekspor dalam mata uang asing secara kredit sbb.:
1.    Tanggal transaksi. Mencatat transaksi pembelian atau penjualan pada nilai setara dolar AS menggunakan kurs langsung tunai pada tanggal tersebut.
2.    Tanggal neraca. Menyesuaikan utang atau piutang menjadi nilai setara rupiah pada setiap akhir periode menggunakan kurs langsung sekarang.Mengakui keuntungan atau kerugian sebagai akibat perubahan kurs antara tanggal transaksi dengan tanggal neraca.
3.    Tanggal pelunasan.Pertama-tama menyesuaikan utang atau piutang untuk setiap perubahan mata uang asing antara tanggal neraca (atau tanggal transaksi jika transaksi tersebut terjadi setelah tanggal neraca ) dengan tanggal pelunasan. Mencatat keuntungan atau kerugian sebagai akibat perubahan kurs yang terjadi, kemudian mencatat pelunasan utang atau piutang dalam mata uang asing tersebut.
Proses penyesuaian ini diperlukan sebab PSAK mengadopsi apa yang disebut sebagai pendekatan dua transaksi (two-transaction approach), yang memandang bahwa pembelian atau penjualan barang sebagai suatu transaksi yang terpisah dari komitmen mata uang asing. Dengan mengadopsi pendekatan dua transaksi untuk transaksi dalam mata uang asing, PSAK menetapkan suatu aturan umum bahwa keuntungan atau kerugian dari revaluasi asset atau kewajiban dalam mata uang asing harus diakui pada saat periode berjalan dalam laporan laba rugi, pada periode dimana kurs tersebut berubah.
Ilustrasi Transaksi Pembelian dari Luar Negeri
Ilustrasi pembelian dari luar negeri.
1)   Pada tanggal 1 Oktober 20X1, PT Induk, sebuah perusahaan Indonesia memperoleh barang secara kredit dari Tokyo Industries, perusahaan Jepang, sebesar Rp160.000.000 atau 2.000.000 yen.
2)   PT Induk menyusun laporan keuangan pada akhir tahun per 31 Desemberr 20X1
3)   Pelunasan utang dilakukan pada tanggal 1 April 20X2
Kurs tunai langsung untuk nilai setara dolar AS dari 1 yen adalah sebagai berikut:
Tanggal
Kurs Langsung
1 Oktober 20X1 (tanggal transaksi)
Rp80
31 Desember 20X1 (tanggal neraca)
Rp90
1 April 20X2 (tanggal pelunasan)
Rp86
Akun yang berkaitan dengan transaksi dalam yen diberikan catatan dengan tanda kurung yen (¥) setelah nama akun. Dalam contoh nanti, anda akan melihat bahwa asset dan kewajiban dalam mata uang asing dan penyesuaiannya diperlukan untuk menggambarkan nilai saat ini dari akun tersebut dengan menggunakan kurs setara dolar AS.
Pembahasan Penting dari Ilustrasi
Jika kontrak pembelian dinyatakan dalam dolar, maka entitas asing (Tokyo Industries) akan menanggung risiko kurs mata uang asing. Jika transaksi dinyatakan dalam yen, maka perusahaan Indonesia (PT Induk) akan terbuka terhadap kemungkinan keuntungan dan kerugian kurs. Akun-akun yang berkaitan dengan kewajiban dalam unit mata uang asing yang timbul diakui pada periode berjalan. Kontrak pembelian memuat spesifikasi dari mata uang yang digunakan seperti yang disetujui oleh kedua pihak.
Pada tanggal 1 Oktober 20X1, pembelian dicatat di pembukuan PT Induk. Nilai setara rupiah dari 2.000.000 yen pada tanggal tersebut adalah sebesar Rp160.000.000(¥2.000.000 x Rp80)
Pada tanggal neraca, 31 Desember 20X1, utang dalam mata uang asing harus disesuaikan menjadi nilai setara rupiah. Kurs langsung yang meningkat sejak tanggal pembelian menunjukkan bahwa rupiah melemah relatif terhadap yen. Oleh karena itu, pada tanggal 31 Desember 20X1, diperlukan Rp180.000.000 untuk memperoleh 2.000.000 yeen (¥2.000.000 x Rp90), sedangkan pada tanggal 1 Oktober 20X1, hanya diperlukan Rp160.000.000 untuk memperoleh 2.000.000 yen (¥2.000.000 x Rp80). Peningkatan kurs ini menyebabkan pengakuan kerugian transaksi mata uang asing sebesar Rp20.000.000 jika transaksi tersebut dinyatakan dalam rupiah, sebab PT Induk mempunyai kewajiban sebesar Rp160.000.000, tidak tergantung perubahan kurs
Utang yang dibayarkan pada tanggal 1 April 20X2. Jika utang tersebut dinyatakan dalam rupiah, maka tidak diperluka penyesuaian, sementara kewajiban dilunasi dengan melakukan pembayaran sebesar Rp160.000.000. namun asset dan kewajiban yang dinyatakan dalam unit mata uang asing harus disesuaikan lagi pada nilai rupiah yang berlaku. Rupiah menguat antara tanggal 31 Desember 20X1 dan 1 April 20X2, ditunjukkan dengan adanya penurunan kurs langsung. Dengan kata lain, lebih sedikit dolar yang diperlukan untuk memperoleh 2.000.000 yen pada tanggal 1 April 20X2 dibandingkan pada tanggal 31 Desember 20X1. Utang usaha disesuaikan menjadi nilai dolar sekarang, dan keuntungan transaksi mata uang asing sebesar Rp8.000.000 [¥2.000.000 x (Rp90-Rp86)] diakui untuk perubahan kurs sejak tanggal neraca. PT Induk membeli 2.000.000 yen dengan membayar pedagang mata uang asing pada kurs tunai sebesar Rp172.000.000 (¥2.000.000 x Rp86). Pada akhirnya PT Induk melunasi kewajibannya (dalam yen) dengan membayar Tokyo Industries sebesar 2.000.000 yen. Pemahaman revaluasi dapat lebih mudah dengan melihat prosesnya dari perspektif akun T (T-account). Akun T berikut mengikhtisarkan ayat-ayat jurnal berikut :




Utang Usaha (¥)


20X1

(¥2.000.000 x Rp80


1 Okt
160.000.000
[¥2.000.000 x (Rp80-Rp90)]


31 Des
20.000.000
Saldo (¥2.000.000 x Rp90)


31 Des
180.000.000

20X2




1 Apr




[¥2.000.000 x (Rp90 – Rp86)]
8.000.000



1 Apr pelunasan




(¥2.000.000 x Rp86)
172.000.000





2 Apr
0
Saldo
Perbandingan Ayat Jurnal untuk Perusahaan AS untuk transaksi pembelian dari dan luar negeri dalam rupiah dan dalam unit mata uang asing.

Jika dalam Rupiah
Jika dalam Yen Jepang
1 Oktober 20X1 (Tanggal Pembelian)
 Persediaan
           Utang Usaha
160.000.000

160.000.000
Persediaan
         Utang Usaha (¥)
160.000.000

160.000.000

Rp160.000.000 = ¥2.000.000 x Rp80 kurs tunai
31 Desember 20X1 (Tanggal Neraca)
Tidak ada jurnal
Rugi Transaksi Mata Uang Asing
                           Utang Usaha (¥)
20.000.000

20.000.000



Menyesuaikan utang dalam mata uang asing pada pelaporan setara dollar AS dan mengakui rugi selisih kurs:
Rp180.000.000 = ¥2.000.000 x Rp90  31 Des kurs tunai
    -160.000.000 = ¥2.000.000 x Rp80     1 Okt kurs tunai

       20.000.000 = ¥ 2.000.000 x (Rp90-Rp80)


1 April 20X2 (Tanggal Penyelesaian)

Utang Usaha (¥)
       Keuntungan Transaksi Mata Uang Asing
8.000.000

8.000.000

Menyesuaikan utang dalam mata uang asing pada pelaporan setara dolar AS dan mengakui keuntungan selisih kurs :

Rp172.000.000 = ¥2.000.000 x Rp86
    -180.000.000 = ¥2.000.000 x Rp90
       80.000.000 = ¥2.000.000 x (Rp90-Rp80)
Unit Mata Uang Asing (¥)
                  Kas
1 Apr kurs tunai
31 Des kurs tunai


172.000.000

172.000.000

Memperoleh FCU untuk menyelesaikan utang :
Rp172.000.000 = ¥2.000.000 x Rp86   1 Apr kurs tunai
Utang Usaha
           Kas
160.000.000

160.000.000
Utang Usaha (¥)
           Unit Mata Uang Asing (¥)
172.000.000

172.000.000
1 April 20X2
Ayat  Jurnal :
(3)          Unit Mata Uang Asing (¥)                              172.000.000
                           Kas                                                                              172.000.000
                           Memperoleh mata uang asing

(4)          Utang Usaha (¥)                                              180.000.000
                           Keuntungan transaksi Mata Uang Asing                        8.000.000
                           Unit Mata Uang Asing (¥)                                          172.000.000
                                    Menyelesaikan utang dalam mata uang asing dan mengakui
keuntungan dari perubahan kurs sejak  tanggal 31 Desember 20X1.
Dapat disimpulkan bahwa jika transaksi dilakukan dalam rupiah, maka PT Induk tidak mengalami risiko kurs mata uang asing; sedangkan Tokyo Industries menanggung risiko mata uang asing. Jika transaksi dilakukan dalam yen, maka PT Induk mengalami risiko kurs mata uang asing. Asset dan kewajiban yang dinyatakan dalam unit mata uang asing harus dinilai kembali pada nilai setara rupiah, dan keuntungan atau kerugian transaksi mata uang asing yang timbul harus diakui pada laporan laba rugi periode berjalan.
1.4         MENGELOLA RISIKO MATA UANG INTERNASIONAL DENGAN INSTRUMEN KEUANGAN PERTUKARAN MATA UANG MASA DEPAN (FOREIGN CURRENCY FORWARD EXCHANGE)
Perusahaan perlu mengelola risiko mereka. Perusahaan yang beroperasi secara Internasional bukan saja mengalami risiko bisnis normal namun umumnya juga mengalami risiko tambahan dari perubahan kurs mata uang asing, karena perusahaan melakukan transaksi menggunakan lebih dari satu mata uang. Entitas multinasional mengelola risiko mata uang asing mereka dengan menggunakan beberapa jenis instrument keuangan seperti : (1) Kontrak masa depan dalam mata uang asing(foreign currency - denominated forward exchange contract), (2) Opsi mata uang asing ( foreign currency option), dan (3) Mata uang asing berjangka (foreign currency future)
Akuntansi untuk derivatif dan aktivitas lindung nilai (hedging)berpedoman pada dua standar. PSAK 50,Instrumen Keuangan: Penyajian dan pengungkapan", dan PSAK 55,Instrumen Keuangan: Pengakuan danPengukuran", mendefinisikan derivatif dan menetapkan aturan umum dalam  pengakuan derivatif baik sebagai aset atau kewajiban dalam neraca dan mengukur instrumen keuangan tersebut pada nilai wajar.
Instrumen keuangan (financial instrument) adalah kontrak yang akan meningkatkan nilai aset dari suatu entitas dan instrumen utang atau ekuitas pada entitas lain. Contohnya antara lain adalah bukti kepemilikan, wesel bayar dan wesel tagih serta berbagai jenias kontrak keuangan lainnya.
Derivatif (derivative) adalah suatu instrumen keuangan yang :
·      Memiliki satu atau lebih variabel pokok yang mendasarinya (underlying) dan satu atau lebih jumlah nosional (notional amount). Di mana nilainya mengalami perubahan karena ada perubahan variabel yang mendasarinya seperti tingkat bunga, harga komoditas, atau surat berharga atau index.
·      Tidak memerlukan investasi awal neto atau kalaupun memerlukan investasi maka nilainya lebih kecil bila dibandingkan dengan jumlah yang dibutuhkan oleh jenis perjanjian lainnya yang diperkirakan akan menghasilkan efek yang sama terhadap perubahan dalam faktor-faktor pasar.
·      Persyaratan perjanjian mengharuskan adanya settlement (pelunasan) pada tanggal tertentu di masa yang akan datang.
Sebagai contoh untuk derivatif adalah kontrak pertukaran mata uang asing masa depan yang nilainya diturunkan dari perubahan kurs mata uang asing sepanjang kontrak. Perlu dicatat bahwa tidak semua instrument keuangan adalah derivatif
Definisi spesifik dari derivatif adalah suatu instrumen keuangan atau kontrak yang mempunyai semua karakteristik berikut :
1.   Memiliki satu atau lebih variabel pokok yang mendasarinya (underlying) dan satu atau lebih jumlah nosional (notional amount)  yang menentukan persyaratan instrumen keuangan tersebut.
a. Variabel pokok yang mendasari (underlying) adalah variabel keuangan atau variabel fisik yang mempunyai perubahan yang dapat dipantau atau yang dapat diverifikasi secara obyektif. Kurs mata uang asing, harga komoditas, indeks atau tingkat harga, jumlah hari-hari yang hangat pada musim dingin atau variabel lain yang mencakup peristiwa yang terjadi maupun tidak terjadi seperti pembayaran yang dijadualkan dalam suatu kontrak.
b. Jumlah nosional (notional amount) adalah banyaknya unit mata uang, saham, ukuran kapasitas, berat atau unit lain  yang ditetapkan dalam instrumen keuangan.
2.   Instrumen keuangan atau kontrak lain tidak memerlukan investasi awal neto atau jikapun ada  maka investasi neto awal dari pada yang diperlukan untuk jenis kontrak yang diharapkan mempunyai tanggapan yang serupa pada perubahan faktor pasar.
3.   Persyaratan kontrak: (a) memerlukan atau memperbolehkan suatu penyelesaian neto (neto settlement), (b) menyediakan penyerahan aset yang menempatkan penerima dalam posisi ekonomi yang secara substansial tidak berbeda dengan penyelesaian neto atau, (c) kontrak yang siap untuk diselesaikan neto oleh pasar atau mekanisme lain diluar kontak. Sebagai contoh, sebuah kontrak masa depan (forward contract) mengharuskan penyerahan atas sejumlah saham namun ada mekanisme pasar opsi yang menawarkan kesempatan untuk siap menjual kontrak atau untuk masuk ke dalam suatu kontrak yang saling menghapuskan atau saling mengompensasi (offsetting contract).
Adakalanya instrumen keuangan mempunyai derivatif yang melekat (embedded derivative) yang harus dipisahkan atau dipindahkan dari kontrak utamanya. Contoh derivatif yang melekat adalah penawaran utang perusahaan yang mencakup bunga reguler namun disertai pula dengan adanya kemungkinan pembayaran premi berdasarkan harga masa depan komoditas seperti halnya minyak mentah. Dalam hal ini, fitur pembayaran bersyarat tersebut adalah derivatif. Contoh lain, perjanjian utang yang menetapkan pokok pinjaman namun tingkat bunganya berdasarkan pada LIBOR (London Interbank offered rate) yang bersifat variabel. Dalam hal ini, bunga tersebut derivatif yang ditempelkan karena sifat variabelnya yang diturunkan dari pasar.
Derivatif yang Ditujukan sebagai Lindung Nilai
Derivatif dapat ditujukan untuk melindungi nilai atau mengurangi risiko. Beberapa perusahaan menggunakan derivatif bukan untuk lindung nilai namun sebagai instrumen keuangan yang bersifat spekulatif. Contoh, perusahaan dapat menandatangi kontrak masa depan yang tidak mempunyai tujuan untuk saling menghapuskan nilai apapun. Dalam hal ini, kerugian atau keuntungan derivatif dicatat dalam laba periode berjalan.
PSAK 55 memberikan persyaratan spesifik dalam pengklasifikasian derivatif sebagai suatu aktivitas lindung nilai. Akuntansi lindung nilai menghapuskan (kerugian) atas pos yang dilindungi atas kerugian (keuntungan) dari instrumen lindung nilai. Lindung nilai dapat digunakan untuk (1) risiko kurs mata uang asing dimana kurs dapat berubah setiap saat, (2) risiko tingkat bunga khususnya untuk perusahaan yang mempunyai utang yang bersifat variabel, dan (3) risiko komoditas dimana harga masa depan dapat berbeda dari harga tunai.
Suatu instrumen derivatif dapat diklasifikasikan sebagai instrumen lindung nilai jika dan hanya jika seluruh kriteria berikut dipenuhi, yaitu  :
1.    Dokumentasi yang cukup harus disajikan pada awal jangka waktu lindung nilai untuk menentukan tujuan dan sasaran dari lindung nilai. Instrumen lindung nilai dan hal-hal yang dilindungi serta bagaimana aktivitas lindung nilai tersebut akan dievaluasi secara berkesinambungan.
2.    Lindung nilai harus sangat efektif dalam mengompensasi seluruh perubahan dalam nilai wajar maupun arus kas yang dihubungkan dengan nilai yang dilindungi dan seluruh strategi manajemen untuk melakukan lindung nilai tersebut secara konsisteen harus didokumentasikan selama jangka waktu lindung nilai.
3.    Untuk lindung nilai arus kas, transaksi yang diperkirakan sebagai subjek lindung nilai harus dapat memiliki kemungkinan yang sangat tinggi (highly probable) dan harus menunjukkan adanya eksposur yang tinggi pada arus kas yang dapat menyebabkan timbulnya untung dan rugi akibat risiko tersebut.
4.    Efektivitas lindung nilai harus dapat dihitung dengan meyakinkan, seperti lindung nilai atas nilai wajar atau arus kas harus dapat dihubungkan dengan risiko lindung nilai dan instrumen lindung nilai tersebut dapat dihitng dengan tepat.
5.    Lindung nilai ditentukan secara berkesinambungan dan nilai pada bagian efektifnya ditentukan secara aktual sepanjang periode pelaporan keuangan.
Efektivitas dipandang sebagai kemampuan instrumen derivatif untuk menghapuskan perubahan dalam nilai wajar atas arus kas  barang yang dilindungi antara 80 sampai 125 % dari perubahan nilai barang yang dilindungi.
Derivatif yang memenuhi persyaratan untuk lindung nilai dan digunakan oleh manajemen perusahaan untuk memenuhi tujuan tersebut diatur dalam PSAK 55 sebagai berikut :
1.    Lindung nilai atas nilai wajar (fair value hedges) digunakan untuk melindungi risiko perubahan nilai wajar dari kewajiban atau aset atau komitmen (firm commitment) yang belum diakui untuk membeli atau menjual aset pada harga tetap atau porsi tertentu seperti aset, kewajiban atau komitmen yang dapat dikaitkan dengan risiko tertentu dan dapat menyebabkan timbulnya keuntungan dan kerugian. Keuntungan dan kerugian neto dari dari perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai diakui pada laporan laba rugi periode berjalan. Pada saat yang sama nilai  terbawa dari nilai lindung tersebut akan disesuaikan untuk untuk atau rugi dengan risiko lindung nilai, dimana hal ini juga langsung diakui pada laporan laba rugi periode berjalan. Contoh lindung nilai atas nilai wajar disajikan dalam lampiran 11B dengan menggunakan suatu kontrak opsi untuk melindungi efek/surat berharga yang tersedia untuk dijual.
2.    Lindung nilai arus kas (cash flow hedges) digunakan untuk melindungi risiko perubahan nilai arus kas yang diantisipasi yang masuk atau keluar dari perusahaan untuk aset dan kewajiban yang diakui seperti (pembayaran  bunga masa depan atau utang bunga dengan tingkat bunga variabel) atau transaksi yang diperkirakan sangat pasti terjadi dan dapat memengaruhi laba dan rugi. Bagian laba atau rugi atas instrumen keuangan yang ditetapkan sebagai bagian efektif harus dilaporkan sebagai bagian dari ekuitas dan akan dipindahkan dalam laporan laba rugi ketiks trsndskdi lindung nilai ketika lindung nilai tersbut memengaruhi laba rugi berjalan.
Bagian efektif didefinisikan sebagai bagian dari keuntungan atau kerugian instrumen lindung nilai yang menghapuskan kerugian atau keuntungan pada pos yang dilindungi. Bagian perubahan nilai pasar wajar ini berkaitan dengan nilai intrinsik dari perubahan variabel pokok yang mendasari. Sisa keuntungan atau kerugian pada instrumen lindung nilai didefinisikan sebagai bagian yang tidak efektif. Perubahan pada nilai pasar wajar derivatif ini berkaitan dengan nilai waktu derivatif tersebut dan menjadi nol pada tanggal masa berlaku derivatif tersebut habis. Jika lindung nilai atas transaksi yang diperkirakan akan menyebabkan pengakuan aset atau kewajiban keuangan maka setiap untung atau rugi dari setiap instrumen keuangan yang sebelumnya diakui langsung sebagai bagian ekuitas langsung dipindahkan dalam laporan laba rugi pada periode yang sama dimana aset atau kewajiban keuangan tersebut menghasilkan laba atau rugi. Contoh penentuan bagian efektif dan tidak efektif dari perubahan nilai derivatif disajikan dalam lampiran 11B sehubungan dengan lindung nilai arus kas yang menggunakan opsi untuk melindungi nilai pembelian persediaan yang diantisipasi di masa depan.
3.    Lindung nilai dari investasi neto operasi di luar negeri. Derivatif yang ditujukan sebagai lindung nilai untuk jenis risiko mata uang asing ini mempunyai keuntungan atau kerugian yang dilaporkan dalam pendapatan komprehensip lainnya sebagai bagian dari penyesuaian translasi kumulatif.
Kontrak Pertukaran Masa Depan
Untuk laporan keuangan yang berakhir pada bulan Oktober 2005, Komite nilai tukar mata  uang asing (foreign exchange committe) dari Badan reserve federal new york melaporkan bahwa volume rata-rata harian pada instrumen nilai tukar adalah sebesar $440 miliar sedangkan volume rata-rata harian transaksi opsi  mata uang asing sebesar $37 miliar. The Chicago Mercantile Exchange (CME) adalah pasar perdagangan mata uang asing terbesar di dunia dan juga sangat teratur. CME juga tempat pertemuan pembeli dan penjual baik melalui sistem perdagangan elektronik (CME Globec) maupun melalui pasar bursa yang terbesar. Selama tahun 2005 lebih dari 84 juta kontrak mata uang asing dengan nilai perdagangan sebesar $10,2 triliun diperdagangkan di CME . Pada bulan Mei 2006 produk pertukaran mata uang asing CME rata-rata mencatat 501.000 kontrak perhari dan naik 69%  dibanding tahun sebelumnya. Produk pertukaran mata uang asing melalui sistem perdagangan elektronik mencatat 451.000 kontrak per hari meningkat 90 % dari tahun sebelumnya.
Perusahaan yang beroperasi di mancanegara seringkali menggunakan kontrak pertukaran masa depan (foreign exchange contract) dengan pedagang mata uang asinguntuk menukarkan berbagai mata uang pada kurs dan tanggal tertentu di masa depan. Kontrak pertukaran masa depan ini diperoleh dari pedagang mata uang asing. Biasanya, kontrak ini ditulis untuk salah satu mata uang internasional utama. Kontrak umumnya tersedia untuk jangka waktu berapa pun hingga 12 bulan kedepan, namun kebanyakan lebih singkat, antara 30 sampai 180 hari. Kontrak pertukaran masa depan ini dapat berupa perolehan mata uang asing atau penyerahan mata uang asing pada tanggal tertentu di masa depan, atau yang disebut sebagai tanggal kadaluarsa. Kurs pertukaran kontrak tersebut berbeda dengan kurs tunai karena berbagai faktor ekonomi yang terlibat dalam penentuan kurs masa depan vs kurs tunai pertukaran. Untuk transaksi lindung nilai, jika kurs masa depan lebih tinggi daripada kurs tunai, maka selisih antara kedua kurs ini disebut premi atas kontrak pertukaran masa depan (premium on the forward exchange contract); ini berarti mata uang asing dijual pada harga yang lebih tinggi (harga premium) dibandingkan dengan pasar masa depan (forward market). Jika kurs masa depan lebih rendah daripada kurs tunai, maka selisihnya disebut sebagai diskon atas kontrak pertukaran masa depan (discount on the forward exchange contract); ini berarti mata uang asing dijual pada harga yang lebih rendah (harga diskon) dibandingkan dengan pasar masa depan.
PSAK 55 menetapkan aturan dasar untuk akuntansi atas kontrak pertukaran masa depan. Perubahan nilai wajar harus diakui, namun akuntansi khusu untuk perubahan tersebut tergantung pada tujuan dari lindung nilai. Untuk kontrak pertukaran masa depan, aturan dasarnya adalah menggunakan kurs masa depan untuk mencatat kontrak masa depan













KOMENTAR
Transaksi Mata Uang Asing ( foreign currency transactions) adalah aktivitas ekonomi yang dinyatakan  selain dari mata uang  pencatatan suatu entitas. Transaksi tersebut meliputi :
1.      Pembelian atau penjualan barang/jasa (impor atau  ekspor) , dimana harganya dinyatakan dalam mata uang asing.
2.      Utang atau piutang pinjaman dalam mata uang asing
3.      Pembelian atau penjualan kontrak kurs masa depan
4.      Pembelian atau penjualan unit mata uang asing.
Entitas multinasional mengelola risiko mata uang asing mereka dengan menggunakan beberapa jenis instrument keuangan seperti : (1) Kontrak masa depan dalam mata uang asing(foreign currency - denominated forward exchange contract), (2) Opsi mata uang asing ( foreign currency option), dan (3) Mata uang asing berjangka (foreign currency future)

Komentar

Postingan Populer